Analisis Amr (Perintah) dalam Qasidah Burdah karya Imam Al Bushiri

Analisis Amr (perintah) dalam Qasidah Al-Burdah Karya Al-Bushiri

 

  1. Teori Amr

Amar Adapun Qaidah Amar yaitu menuntut suatu pekerjaan dari orang yang lebih tinggi (dalam kedudukan atau umur). Bentuk Amar dalam balaghah sama dengan bentuk amar dalam tata bahasa Arab.

Pakar-pakar dalam  ilmu balaghah menyebutkan :”Bentuk Amar ada empat : ™

  1. Fi’il Amar ™
  2. Mudhari’ yang diketahui oleh i’lam Amar
  3. Ism Fi’il amar
  4. Masdar sebagai ganti dari Fi’il Amar

Selain makna perintah dari segi balaghah Amar mempunyai makna lain yakni apabila diteliti dari konteks kalimat (siyaqul kalam) mendatangkan makna sebagai berikut:

  1. Irsyad (memberi petunjuk)
  2. Do’a (Doa)
  3. Iltimas(menyuruh orang sebaya)
  4. Tamanny (bercita-cita)
  5. Takhyir (memilih)
  6. Taswiyah (Mempersamakan)
  7. Ta’jizl (Melemahkan)
  8. Tahdid (Ancaman)
  9. Ibahah ( membolehkan)

 

  1. Analisis amr dalam qashidah burdah

 

فَاصْرِفْ هَوَاهَا وَحَاذِرْ أَنْ تُوَلِّيَهُ       ۞     إِنّ الْهَوَى مَا تَوَلَّى يُصِمْ أَوْ يَصِمِ

Maka palingkanlah nafsumu, takutlah jangan sampai ia menguasai-nya

Sesungguhnya nafsu, jikalau berkuasa maka akan membunuhmu dan membuatmu tercela

 

  • اصْرِفْ (palingkanlah) : shigoh fi’il amr , berasal dari  –يَصْرِفُصَرَفَ dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki).
  • Pada bait ini, Imam Al-Bushiri memerintahkan kita untuk memalingkan diri dari kenikmatan syahwat (hawa nafsu), dan berhati-hati jangan sampai kita menjadikan hawa nafsu kita pemimpin yang menguasai kita, karena hawa nafsu bila telah biasa kita turuti perintahnya, ia dapat membunuh kita dan hanya akan merugikan kita.
  • Makna amr yang terdapat dalam bait ini adalah irsyad (memberi petunjuk)

 

وَرَاعِهَا وَهْيَ فِيْ الأَعْمَالِ سَآئِمَةٌ       ۞     وَإِنْ هِيَ اسْتَحْلَتِ الْمَرْعَى فَلاَتُسِمِ

Dan gembalakanlah nafsu, karena dalam amal nafsu bagaikan hewan ternak.

Jika nafsu merasa nyaman dalam kebaikan, maka tetap jaga dan jangan kau lengah.

 

  • ) رَاعِها gembalakan ia): shigoh  رَاع merupakan fi’il amr yang disembunyikan huruf illahnya.  Berasal dari kataيرْعى  –  رعا.

dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki).  Sedangkan ها  adalah dhomir muttasil yang berkedudukan sebagai maf’ul bih (objek) yang merujuk kepada kata pada bait sebelumnya, yakni hawa nafsu.

  • Pada bait ini, Imam Al-Bushiri mengajak kita untuk menggembalakan hawa nafsu (melatihnya) terus- menerus, serta membiasakannya untuk selalu beramal sholih, karena hawa nafsu bagaikan hewan ternak yang gampang lepas jika kita lengah.
  • Demikian, makna amr dalam bait ini adalah irsyad (memberi petunjuk/nasihat)

 

وَاخْشَ الدَّسَائِسَ مِنْ جُوعٍ وَّمِنْ شَبَعِ ۞     فَرُبّ مَخْمَصَةٍ شَرُّ مِنَ التُّخَمِ

Takutlah  terhadap tipu dayanya lapar dan kenyang

Sebab seringkali, rasa lapar lebih berbahaya daripada kekenyangan

 

  • اخْش (takutlah): dalam shighoh fi’il amr yang disembunyikan huruf illah Berasal dari kata – يخشىخشي dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki)
  • Pada bait ini, Imam Al-Bushiri memperingatkan kita agar tidak jatuh dalam tipu daya dari rasa lapar dan kenyang yang berlebih. karena rasa lapar yang berlebih kadang membuat orang untuk menghalalkan segala hal demi mengenyangkan perutnya, dan rasa kenyang yang berlebih dapat membuat orang lalai dari ibadah. Sehingga rasa lapar seringkali menimbulkan bahaya yang lebih besar daripada rasa kenyang.
  • Makna amr yang terdapat dalam bait ini adalah irsyad (memberi petunjuk/nasihat)

 

 

وَاسْتَفْرِغِ الدَّمْعَ مِنْ عَيْنٍ قَدِ امْتَلَأَتْ ۞     مِنَ الْمَحَارِمِ وَالْزَمْ حِمْيَةَ النَّدَمِ

Deraikanlah airmata, dari pelupuk mata yang penuh noda dosa

Peliharalah rasa sesal dan kecewa karena dosa

 

  • َاسْتَفْرِغِ (deraikanlah) : merupakan shigoh fiil amr dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki)
  • الْزَمْ (lazimkanlah): merupakan shigoh fiil amr dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki)
  • Pada bait ini, Imam Al-Bushiri menasihati kita untuk membiasakan diri kita ber-muhasabah. Mengingat dosa-dosa dan bertaubat atasnya hingga kita berderai air mata, hingga menjadi golongan yang dilindungi di hari kiamat, seperti yang telah disebutkan oleh Rasulullah Saw. dalam haditsnya: “Setiap mata akan menangis di hari kiamat, kecuali mata yang ditutup dari hal-hal yang diharamkan Allah, mata yang begadang di jalan Allah, dan mata yang menangis karena takut kepada Allah.”[1]
  • Dengan demikian, makna amr dalam bait ini adalah irsyad (memberi petunjuk/nasihat)

 

وَخَالِفِ النّفْسَ وَالشّيْطَانَ وَاعْصِهِمَا  ۞     وَإِنْ هُمَا مَحّضَاكَ النُّصْحَ فَاتَّهِمِ

 

Lawanlah hawa nafsu dan setan durhaka, dan jagalah pada keduanya

Jika mereka tulus menasehati maka engkau harus mencurigai

 

  • خَالِفِ (lawanlah): merupakan shigoh fiil amr dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki)
  • Pada bait ini, Imam Al-Bushiri menasihati kita agar kita menentang keinginan nafsu kita, berhati-hati dari godaan setan, dan agar kita tidak pernah mempercayai keduanya. Karena keduanya hanya akan menjerumuskan kita.
  • Demikian, fungsi amr dalam bait tersebut adalah irsyad (memberi petunjuk/nasihat)

 

 

دَعْ مَاادّعَتْهُ النَّصَارٰى فِي نَبِيّهِمِ       ۞     وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحًا فِيْهِ وَاحْتَكِمِ

Tinggalkan tuduhan kaum nasrani, tuduhan yang dilontarkan kepada nabi-nabi mereka

Tetapkanlah untaian pujian kepada nabi Muhammad, panggilan dengan  pujian apapun yang engkau suka

 

  • دَعْ (tinggalkanlah): merupakan shigoh fiil amr dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki).
  • َاحْكُمْ (tetapkanlah): merupakan shigoh fiil amr dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki).
  • احْتَكِمِ (panggillah): merupakan shigoh fiil amr dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki).
  • Pada bait ini, Imam Al-Bushiri membolehkan pada kita untuk memuji Nabi Muhammad dengan pujian apapun yang kita suka, karena bahkan Allah telah memuji Rasulullah dengan sangat agung dan indah dalam kitab sucinya. Pujian seperti apaun dibolehkan dengan batasan, tidak sampai seperti yang dikatakan kaum Nasrani pada nabi mereka, yakni menyebut Nabi Isa anak Tuhan.
  • Demikian, fungsi amr dalam bait tersebut adalah irsyad (memberi petunjuk/nasihat).

 

 

وَانْسُبْ إِلَي ذَاتِـــــــــــــهِ مَا شِئْتَ مِنْ شَرَفٍ        ۞     وَانْسُبْ إِلىٰ قَدْرُهُ مَا شِئْتَ مِنْ عِظَمِ

Nisbahkan kepada dzat nabi segala kemulian yang engkau kehendaki

Nisbahkan kepada martabat nabi segala keagungan yang engkau kehendaki

 

  • انْسُبْ (nisbahkanlah): merupakan shigoh fiil amr dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki).
  • Dalam bait ini Imam Al-Bushiri mengajak kita untuk memuji Rasul dengan pujian dan keagungan sifat yang ada, karena sebesar atau seindah apapun pujian kita tak akan pernah bisa melampaui keagungannya. Seperti yang disebutkan oleh seorang penyair:

انا ما مدحتُ محمدا بقصائدي ,لكن مدحتُ قصائدي بمحمد

) Aku tidaklah sedang memuji Muhammad dengan syairku, tapi aku membuat syairku terpuji karena adanya Muhammad di dalamnya).

على تفنّن واصفيه بوصفه # يفنى الزمان و فيه ما لم يوصفو

  • Demikian, fungsi amr dalam bait tersebut adalah irsyad (memberi petunjuk/nasihat).

 

هُمُ الْجِبَالُ فَسَلْ عَنْهُمْ مُّصَادِمَهُمْ    ۞     مَاذَا رَأَى مِنْهُمُ فِيْ كُلِّ مُصْطَدَمِ

Mereka ksatria bak gunung nan kokoh kuat, maka tanyakan lawan tentang hebatnya gempuran

Apa yang mereka lihat dalam setiap medan peperangan?

 

  • سَل (tanyakanlah): merupakan shigoh fi’il amr dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki).
  • Dalam bait ini Imam Al-Bushiri ingin menyampaikan pada kita, bagaimana kedudukan yang diraih sahabat Nabi dalam Islam. Mereka adalah golongan manusia terbaik. Sifat mereka sangat kokoh, sangat sabar bagaikan gunung. Namun jika kalian masih ragu, lihatlah bagaimana jejak yang mereka tinggalkan pada keadaan sekitar yang menjadi saksi.
  • Amr yg terdapat pada bait di atas bermakna tamanni, karena bertanya/ berkata pada selain makhluk hidup.

 

وَسَلْ حُنَيْنًا وَسَلْ بَدْرًا وَسَلْ أُحُدًا     ۞     فُصُولَ حَتْفٍ لَّهُمْ أَدْهٰى مِنَ الوَخَمِ

Coba kau tanyakan pada Hunain, Badar dan Uhud sebagai ajang peristiwa

Semuanya tempat macam kematian terasa lebih ganas dari wabah kolera

 

  • سَل (tanyakanlah): merupakan shigoh fi’il amr dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki).
  • Dalam bait ini Imam Al-Bushiri ingin menyampaikan pada kita bagaimana kisah tentang keberanian para ksatria yang bertempur di Hunain, Badr, dan Uhud. Karena membunuh orang-orang kafir adalah hal yang lebih sulit dihadapi daripada wabah kolera.
  • Amr yg terdapat pada bait di atas bermakna tamanni, karena bertanya/ berkata pada selain makhluk hidup.

 

يَا رَبِّ وَاجْعَلْ رَجَآئِيْ غَيْـرَ مُنْعَكِسٍ   ۞     لَدَيْكَ وَاجْعَلْ حِسَابِيْ غَيْرَ مُنْخَرِمِ

Ya Allah jadikanlah harapanku tak berbeda dengan apa yang ada disisi-Mu

Dan jadikanlah keyakinanku tiada putus – putus kepada-Mu

 

  • اجْعَلْ (jadikanlah): merupakan shigoh fi’il amr dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki).
  • Makna dari kata “jadikanlah” adalah: Wahai Tuhanku, terimalah permohonanku dan jadikanlah, (harapanku sama dengan apa yang ada di sisi-Mu. Dan jangan kecewakan prasangka baik-ku atas takdir-Mu).
  • Dengan demikian, amr yang terdapat pada bait di atas bermakna doa, karena permintaan yang ditujukan dari hamba kepada Tuhan-Nya.

 

وَالْطُفْ بِعَبْدِكَ فِي الدَّارَيْنِ إَنَّ لَهُ     ۞     صَبْرًا مَتٰى تَدْعُهُ الَهْوَالُ يَنْهَزِمِ

Ya Allah, kasihanilah hamba-mu ini dalam dunia dan akhirat nanti

Sesungguhnya ia punya kesabaran jika bencana menimpa lari tak tahan

 

  • الْطُفْ (berlemah lembutlah): ): merupakan shigoh fi’il amr dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki).
  • Pada bait ini, Imam Al-Bushiri berdoa agar diberi Allah kemuliaan dengan kelembutan-Nya di dunia dan akhirat, ia juga mengeluhkan dirinya yang lemah dan kurang sabar dalam menghadapi bencana.
  • Dengan demikian, amr yang terdapat pada bait di atas bermakna doa, karena permintaan yang ditujukan dari hamba kepada Tuhan-Nya.

وَأْذَنْ لِسُحْبِ صَلاَةٍ مِنْكَ دَائِمَةً      ۞     عَلَى النَّبِيِّ بِمُنْهَلٍّ وَمُنْسَجِمِ

Ya Allah, semoga Engkau curahkan awan shalawat-mu abadi tak terbatas

Kepada junjungan nabi Agung Muhammad Saw, layaknya hujan mengalir deras

 

  • أْذَنْ (curahkanlah): merupakan shigoh fi’il amr dengan fa’il (pelaku) nya merupakan dhomir mustatir yang dikirakan dengan anta (kamu laki-laki).
  • Bait diatas berisi permintaan Al-Bushiri kepada Allah untuk selalu mencurahkan sholawat pada Rasulullah. Meskipun telah tersebut dalam AlQuran bahwasanya Allah selalu bersholawat pada Rasululullah,dan Nabi tidak membutuhkan shalawat dari umatnya namun, pada hakikatnya, hamba yang bersholawat lah yang membutuhkan sholawat tersebut.
  • Dengan demikian, amr yang terdapat pada bait di atas bermakna doa, karena permintaan yang ditujukan dari hamba kepada Tuhan-Nya.

 

ثُمَّ الرِّضَا عَنْ أَبِي بَكْرٍ وَعَنْ عُمَرٍ     ۞     وَعَنْ عَلِيٍّ وَعَنْ عُثْمَانَ ذِي الْكَرَمِ

Kemudian ridha Allah semoga tetap tercurah ruah untuk Abu bakar, Umar

Ali dan Utsman, mereka shahabat –shahabat yang memiliki kemuliaan yang tinggi

 

  • لرِّضَا (keridhoan –Allah-): jenis amr yang berbentuk mashdar.
  • Pada bait ini, pengarang memanjatkan doa pada Allah agar memberi keridhoannya pada 4 khulafa’ur rosyidin, Sahabat Abubakar, Umar, Utsman, dan Ali.
  • Dengan demikian, amr yang terdapat pada bait di atas bermakna doa, karena permintaan yang ditujukan dari hamba kepada Tuhan-Nya.

 

 

 

 

 

[1] HR. Abu Nu’aim dalam kitab al-Hilyah (3:163). Disampaikan oleh Abu Hurairah ra.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *