ANALISIS TASYBIH DAN MAJAZ DALAM QASHIDAH TAA-IYYAH PADA DIWAN AD-DURR AL MANZHUM KARYA IMAM HADDAD

 

 

Latar Belakang Pengarang

Sayyid Abdullah al-Haddad (1044-1132 H) lahir di pinggiran kota Tarim, Hadhramaut, Yaman Selatan. Beliau dikenal sebagai salah seorang tokoh sufi yang sangat berpengaruh. Beliau adalah seorang tokoh sufi yang banyak menyumbangkan gagasan-gagasan sufistik mereka melalui bait-bait syair. Syair-syairnya dikumpulkan dalam karya monumentalnya yang berjudul ad-Durr al-Manzhum li Dzawi al-‘Uqul wa al-Fuhum.

Penyusunan diwan ini dilatarbelakangi oleh keprihatinan Syaikh al-Haddad melihat kondisi sosial keagamaan masyarakat di zamannya yang telah mengalami kemunduran. Kehidupan masyarakat yang mulai terpesona oleh gemerlapnya dunia dan melalaikan kewajiban agama serta nilai-nilai moral Islam yang suci. Mengomentari diwan tersebut, seorang mufti Mekkah yang bernama Syaikh Abdul Rahman ‘Afif ad-Din al-Makki mengatakan:

Telah kubaca semua diwan yang pernah ada

Dari setiap Syaikh penerang dan penunjuk jalan

Dan kutemukan diwan quthb az-zaman Syaikh al-Haddad

Sebagai petunjuk yang paling lurus dan bermanfaat.[1]

Dalam karya tulis ini penulis menganalisis sebagian dari qashidah taa-iyyah yang terdapat dalam diwan Imam Haddad dari segi ilmu balaghohnya, khususnya berkenaan dengan majaz dan tasybih.

 

Pengantar Teori

            Gaya bahasa tasybih merupakan salah satu dari cabang ilmu bayan dalam balaghoh yang memberi penekanan kepada aspek penyampaian suatu makna menggunakan berbagai kaedah dan dikarenakan tasybih merupakan gaya bahasa yang paling utama dan digunakan secara meluas oleh masyarakat Arab semenjak zaman dahulu kala.

Penulis juga menganalisis menggunakan segi majazi nya, yakni makna tersirat yang terdapat dalam suatu karya, juga dengan menganalisis majaz mursal yang terdapat di dalamnya.

Al-Mubarrad mengatakan bahwa majaz merupakan seni bertutur dan berfungsi untuk mengalihkan makna dasar yang sebenarnya. Mursal bermakna bebas, atau tidak terikat. Dalam kitab Al-Balaghoh karya As-Sayyid Umar Al-Kaff disebutkan:

المجاز المرسل: كلمة ٌ استعملت في غير معناها الأصلي, لعلاقة غير المشابهة, مع قرينة مانعة من إرادة معن الأصلي

Majaz mursal adalah kata yang digunakan untuk mewakili  hal lain di luar arti kata yang diungkapkan karena adanya ‘alaqoh (hubungan) ketidaksamaan dan adanya qarinah (penghalang) yang menghalangi maksud aslinya.

 

Bait-Bait Syair dan Terjemahnya

حافظ على المفروض من كل طاعة       #    و أكثر من النفل المفيد لقربة

بكنت له سمعا الى آخر النبأ                 #  عن الله في نص الرسول مثبت

و كن في طعام والمنام و خلطة             #  و نطق على حد اقتصار و قلة

و جالس كتاب الله   واحلل بسوحه           # و دم ذَاكرا فالذكر نور السريرة

عليك به في كل حين و حالة                  # وبالفكر ان الفكر كحل البصيرة

ولا بد من شيخ تسير بسيره                   # الى الله من اهل النفوس الزكية

من العلماء العرفين بربهم                      # فان لم تجد فالصدق خير مطية   [2]

 

Jagalah kewajiban dari setiap perbuatan taat # perbanyaklah yang sunnah dan baik umtuk pendekatan

Dengan “kuntu sam’an” hingga akhir matan # dari Allah berdasarkan nash Rasulullah yamg mapan

Hendaklah engkau dalam hal makan, tidur, dan berteman # hanya sebatas keperluan dan sedikit saja

Dan dudukilah kitab Allah, dan bertempatlah pada halaman-halamannya

# dan tetaplah menjadi orang yang selalu berdzikir, karena dzikir itu cahaya hati

Hendaklah engkau dalam setiap kondisi dan keadaan # melakukannya dengan berfikir, sesungguhnya berpikir itu celaknya pandangan

Wajib bagimu dari seorang guru agar kau dapat berjalan di jalannya # menuju Allah,      dari golongan mereka yang berjiwa suci

Dari golongan ulama yang mengenal Tuhan mereka # namun jika tidak kau dapatkan, maka kesungguhan adalah sebaik-baik jalan.

Analisis Bait

لقربة

Kata diatas merupakan majaz mursal dengan ‘alaqoh sabbabiyah, karena kata “untuk pendekatan”

sebenarnya bermaksud akibat dari segala yang wajib dan sunnah itu, yakni untuk mendapat keridhoan dan kecintaan Allah.

بكنت له سمعا الى آخر النبأ                       

Kata “kuntu lahu sam’an” bermakna majazi, makna hakikinya adalah penjelasan dari hadits “kuntu sam’an” tersebut.

Hadits yang dimaksud penulis adalah:

ولا يزال عبدي يتقرب إليّ بالنوافل حتى أحبه ، فإذا أحببته كنت سمعه الذي يسمع به ، وبصره الذي يبصر فيه ، ويده التي يبطش بها ، ورجله التي يمشي بها ، ولئن سألني لأعـطينه ، ولئن استعاذني لأعيذنه }[3] .

.

Makna haqiqinya untuk memudahkan pemahaman menurut oleh Al ‘Allaamah Asy-Syaikh ‘Abdurro’uf Al Manawi dalam kitab “faydh al qodir, syarh jami’ al shoghir”:

Allah menjadikan cintanya pada hambanya telah menguasainya sehingga hamba tersebut tidak melihat, mendengar dan berbuat terkecuali apa yang dicintai Allah dan Allah akan membantunya dengan menjaga organ-organ tadi dari hal-hal yang tidak diridhoi-Nya. Hasil dari pendekatan kepada Allah berupa amal fardhu yang diikuti amal sunnah akan meningkat derajat hamba tersebut dari derajat keimanan menuju maqam ihsan.[4]

و جالس كتاب الله   واحلل بسوحه  

Kata   جالسmerupakan majaz mursal dengan ‘alaqoh haaliyah . Disebutkan keadaannya, yakni “duduklah”, sedangkan yang dimaksud adalah agar kita selalu duduk bersama AlQuran (yang menempatinya). Qarinah nya tersirat bahwa kita tidak mungkin “menduduki” AlQuran. Ia bermakna mulazim, yakni melazimi AlQuran. Kata واحلل  merupakan majaz mursal dengan ‘alaqoh mahalliyah. Disebutkan kata “bertempatlah- pada halaman-halamannya” , sedangkan yang dimaksud adalah keadaan yang menempati itu, sama dengan kata sebelumnya, yakni melazimkan diri membaca AlQuran.

 

فالذكر(مشبه)  نور السريرة  (مشبه به)

Penulis menyerupakan الذكر “dzikir” dengan kata    “”نور السريرة , atau dengan kata lainnya “ القلب نور ”   yang bermakna “cahaya hati” dan meyembunyikan adatut tasybih dan wajhus syabbah nya. Wajhus syabbah nya adalah kesamaan dalam hal fungsinya yang dapat menerangi. Dzikir adalah mengingat Allah, sebuah cahaya ilahi. Seperti yang disebutkan dalam AlQuran surat An-Nur ayat 53: “…Allah SWT. membimbing orang yang dikehendaki kepada cahaya-Nya. Allah SWT. mengemukakan banyak perumpamaan kepada manusia. Allah SWT. jugalah yang Maha Tahu akan segala sesuatu.”,  sehingga ia termasuk tasybih baligh.

ان الفكر (مشبه)  كحل البصيرة (مشبه به) 

Penulis menyerupakan kata الفكر “berpikir” dengan kata  كحل البصيرة (celaknya pandangan) dan meyembunyikan adatut tasybih dan wajhus syabbah nya. Wajhus syabbah nya adalah kesamaan dalam hal dapat mencerahkannya. Berpikir dapat mencerahkan mata batin, sedangkan celak mencerahkan mata lahir. Seperti tersebut dalam hadits: “Gunakan itsmid (celak merah), karena itsmid bisa menjernihkan pandangan mata dan menumbuhkan bulu mata” (Dikeluarkan oleh Imam At-Tirmidzi dalam Asy-Syama’il dan juga oleh Al-hakim serta dinyatakan shahih oleh Beliau, serta disepakati oleh Adz-Dzhahabi). Sehingga ia termasuk tasybih baligh.

فالصدق(مشبه) خير مطية(مشبه به)

Penulis menyerupakan kata الصدق “kesungguhan” dengan kata  خير مطية(sebaik-baik tunggangan) dan meyembunyikan adatut tasybih dan wajhus syabbah nya. Wajhus syabbah nya adalah kesamaan dalam fungsinya untuk menjadi fasilitas yang memudahkan dalam berjalan menuju Allah, yakni jalan guru yang benar seperti disebutkan dalam bait sebelumnya. Sehingga bait di atas merupakan tasybih baligh.

Kesimpulan

Pemahaman tekstual tidaklah cukup untuk memahami bait-bait syair. Diperlukan berbagai fasilitas ilmu untuk memahami maknanya baik secara tekstual maupun kontekstual. Di antara perangkat ilmu tersebut, yang terpenting untuk dipelajari adalah ilmu balaghah, termasuk tasybih dan majaz mursal. Tasybih dan majaz mursal yang digunakan dalam suatu syair selain dapat memperindah syair, juga menunjukkan kedalaman makna yang ingin disampaikan oleh penulis. Hasil analisis ini mengungkapkan betapa tingginya nilai balaghah dari setiap kata dan kalimat yang terdapat dalam syair  Imam Haddad, terutama pada qasidah taa-iyyahnya.

Daftar Pustaka

AlQuran.

Al-Haddad, Syaikh.  Diwan Ad-Durr Al-Manzhum Li Dzawi Al Uqul Wa Al Fuhum.

Al-Kaf, Idrus Abdullah. 2003. Bisikan-Bisikan Ilahi: Pemikiran Sufistik Imam al-Haddad dalam Diwan ad-Durr al-Manzhum. Bandung: Pustaka Hidayah.

Al Manawi, Abdur-rauuf. 2009.  Faydh Al Qodiir: Syarh Al Jami’ Al Shoghir. Juz 2. Beirut: Darul Kutub Al ‘Ilmiyyah.

Daftar Laman

http://wowmuslim.blogspot.com/2015/12/menjaga-kesehatan-mata-dengan.html (diakses pada 29 Desember 2015 pukul 15:32 WIB)

 

 

 

 

 

[1] Bisikan h.26

[2] Syaikh al-Haddad, Diwan, h.121.

[3] [رواه البخاري:6502]

[4] Faydhul Qadir, h.305

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *